-->
Faraz Berenang: Melatih Kemandirian #Day1

Faraz Berenang: Melatih Kemandirian #Day1


Bismillah.
Mungkin dalam minggu kemarin, Teman-teman heran karena blog ini mendadak rame lagi. Tapi, kok melulu tentang Faraz ya??? Blognya nambah tema tentang keluarga dan parenting nih! Ha Ha Ha.

Walaupun agak terlambat, aku akan sampaikan awal mulanya. Jadi, postingan-postingan bertemakan keluarga dan parenting ini bermula dari cerita tentang kelas Institut Ibu Profesional (IIP) dan aku yang kemudian mendaftar ikut kelas matrikulasinya.

Baca:

SIAP BELAJAR DI INSTITUT IBU PROFESIONAL (HARAPANKU)



Alhamdulillah, niat belajar dimudahkan dengan adanya kelas online gini. Tau sendirilah Mamak Faraz nih agak susah mondar-mandir. Apalagi kalo ga direncanakan dari jauh hari.

Nah, setelah lulus kelas matrikulasi IIP (Alhamdulillah). Akupun kembali mendaftar untuk kelas lanjutannya. Yaitu kelas Bunda Sayang. Kurikulum kelas ini adalah tentang parenting memang. Jadi, akan banyak entri terkait yaaa...

Semoga adanya ragam tulisan tentang keluarga dan pendidikan ini ga bikin kalian bosan mampir.

Kabar baiknya lagi adalah ...
Setelah lulus #Tantangan10HariGameLevel1 kemarin, aku akan ikut Game Level 2!!!

Nah, berikut adalah entri untuk #TantanganLevel2 dengan target MELATIH KEMANDIRIAN. Untuk game kali ini, targetku masih sama, yaitu Faraz. Hehehe.

Setelah diskusi materi game level 2 ini, aku merasa bahwa aku juga perlu berlatih soal kemandirian ini. Jadilah aku membuat target pencapaian juga. Tapi mungkin ceritanya akan kurapel nanti yaa...


Baiklah, akan kumulai dengan cerita hari ini.


Faraz Berenang



Hari ini, Papa Faraz masuk malam. Jadi, kami ada banyak waktu bersama di siang hari. Setelah menyuapi Faraz pada jam sarapannya tadi, tiba-tiba Papa mengajak pergi berenang.

Yeay!

Sebenarnya sudah dari awal bulan kemarin niat mau berenang. Aku juga sudah membelikan baju renang untuk Faraz. Sayangnya, rencana itu terpaksa ditunda.

Qadarullah, Papa agak kurang sehat awalnya. Kemudian disusul aku yang demam tinggi. Berhubung Faraz memang masih ASI, mau tak mai cepat sekali ia tertular. 3 hari aku demam, esoknya Faraz ikut demam tinggi. Bahkan disertai batuk dan hidung meler yang membuatku dan Papanya kasihan.

Sampai-sampai, adik keduaku pun naik bus menuju rumah sini. Mau membantuku menjaga Faraz katanya. Barakallah, Dek.

Semingguan akhirnya kami semua sehat. Sudah tak demam lagi. Walaupun masih ada batuk-batuk kecil Faraz. Adikku pun pulang.

Ternyata beberapa hari setelahnya, aku masih lesu. Setiap makan mual dan selalu ke toilet. Lidah terasa pahit dan perasaanku semua benda berputar. Aku pusing.

Papa Faraz pun mengajakku cek darah. Ternyata aku positif tipes. Huhuhuhu...

Nah, hari ini nampak semua sudah sehat. Rencana berenang pun dilanjutkan.


Berani Mencoba


Pas sekali ajakan Papa untuk berenang hari ini. Langsung kutuliskan beberapa rencana pencapaian untuk skill minggu ini. Dalam garis besar kubuat: Berani Mencoba Hal Baru

Ini karena memang akan menjadi pengalaman pertama Faraz.

Saat Faraz dan Papa berenang, aku asyik mendokumentasikan sambil mengamati mereka. Ada beberapa hal yang membuatku takjub dengan perkembangan Faraz. Alhamdulillah.

Salah satunya adalah ini.


Faraz dengan inisiatif sendiri berani berdiri di dalam kolam. Papanya berusaha tetap memegang agar ia aman. Tapi malah ditolaknya. Tak kulihat raut takut melainkan senyum kesenangan.

"Waaah, Faraz hebat. Berani yaaa berdiri sendiri gitu." pujiku.

Makin semangat dia mengeksplore segala hal di kolam saat itu. Dia juga mau ketika papanya mengajarkan posisi renang dan gerakan dasar. Aku senang melihatnya.

Kemudian, dia menunjuk slide alias perosotan (bahasa bakunya apa ya? LOL) yang ada di pinggir kolam.

Duh, emang bisa??? batinku.

Papanya menuruti rasa ingin tahu si kecil. Didudukkannya Faraz di ujung perosotan itu. Kupikir dia akan duduk santai dan bermain air saat papanya menyiram-nyiramnya.


Ternyata, dia mengulurkan tangan minta ditangkap. Untung suamiku sigap. Faraz dengan berani 'memerosotkan' diri, gaeees.

Aku kaget sekaligus bangga.

Kaget karena takut dia kenapa-napa. Tapi juga bangga karena dia sangat berani. Duh, Naaaak... I love you, full pokoknya.

Conteng satu. Semangat!!!

Sekian cerita bahagia hari ini. Mampir lagi besok yaaaa... Kalau kamu apa cerita bahagianya hari ini?



#Hari1
#TantanganLevel2
#MelatihKemandirian
#KuliahBundaSayang
@institut.ibu.profesional
Read more »
Kakak Bayi: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day12

Kakak Bayi: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day12


Faraz dah jadi Kakak Bayi nih.
Sebenernya emang udah semenjak ada Adek  Fatih, anaknya Te Imel. Trus sekarang ada Adek Inaya. Senengnyaaaa...

Dari Karang Endah kemarin itu, aku sudah sounding ke Faraz kalau nanti di Muara Enim kita mau jenguk bayi.

"Faraz, nanti kita liat Baby yaaa..." kataku waktu itu.

Faraznya ketawa dan senyum aja. Dipikir aku becanda kali ya? Ha Ha Ha.

"Faraz nanti sayang baby ya. Kan Faraz tu Kakak Baby sekarang." kataku di lain kesempatan. Masih sounding aja terus.

Aku memang begitu. Untuk melakukan aktivitas baru atau kalau aktivitasnya sudah lama tidak dilakukan biasanya sounding lagi.

Niatnya biar dia ga kaget. Misalnya kalau mau pergi naik bus. Aku akan bilang oada Faraz soal itu minimal di malam sebelum berangkat. Bahkan seringnya justru sejak sehari atau dua hari sebelumnya.

Begitu pula tentang pergi menjenguk bayi ini. Alhamdulillah kakak sepupuku melahirkan. Mumpung masih di Muara Enim aku mau menjenguk sekalian.

Waktu kami sampai di sana, Faraz nampak salah tingkah. Dia mondar-mandir di seputar ruang tamu itu.

Ketika bayinya dibawa ke depan dan aku menggendongnya, Faraz senyum-senyum sambil mendekat.

Ayuk Lia, sepupuku yang baru melahirkan ini membolehkan Faraz mencium Baby Naya. Faraz pun menciumnya. Lucu sekali sayang tidak sempat diabadikan.

Aku sempat mewakili Faraz untuk menolak ijin cium bayi tadi. Karena aku takut bayinya kenapa-napa. Kan bayi itu sensitif, trus Faraz juga sudah sangat aktif. Takutnya ada kotoran di kulit Faraz atau Faraz terlalu keras cium bayinya.

Ternyata ketakutanku ditepisnya. Tak apa cium baby, begitu bahasa tubuh Yuk Lia. Akhirnya kubolehkan Faraz mendekat dan sukses cium lembut nan menggemaskan tadi.

Lalu, aku ajak Faraz duduk di sebelahku. Nampaknya dia senang melihat Baby Naya. Hihihihi...

"Sini Faraz duduk sebelah mama kalo mau liat baby." kataku padanya.

Duduklah ia sambil senyum-senyum menatap adiknya itu. Aku beri kode pada Papahnya Faraz untuk mengabadikan momennya.

Cekrek!

#hari12
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Read more »
Membiasakan Menabung: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day11

Membiasakan Menabung: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day11


Weekend kemarin kan Faraz mudik ke rumah neneknya di Karang Endah. Dalam rangka menghadiri undangan walimah Bundari-nya.

Ternyata pas mau pulang, nenek buyutnya memberi sebuah amplop. Katanya untuk Faraz. Alhamdulillah barakallah, Nek.

Namanya orang tua kan ya, ada aja mau memberi pada anak cucu. Eh, Faraz ini mah udah cicit itungannya. Hehehe...

Nah, begitu sampai di rumah, aku ajak Faraz untuk membuka amplop pemberian nenek buyut. Lalu kuajak ia memberi makan 'ayam' - nya.

"Ini dari Nek Buyut, Dek." aku memperlihatkan uang miliknya itu.

Kemudian kulipat dan kuberikan dalam genggamannya. Sambil bercerita, kuselipkan juga jurus komunikasi produktif yang kupelajari. Yaitu Refleksi Pengalaman.

"Ini tuh uang dari nenek. Faraz kan masih kecil, kita tabung aja uangnya. Masukkan kasih makan ayam Faraz. Nanti pas mau sekolah ada uang deh buat beli buku dan pensil Faraz. Gitu ya, Dek." Aku mulai mengoceh. 

Walaupun Faraz belum bisa bicara, aku selalu mensugestikan bahwa ia mengerti. Jadi, aku tetap saja bicara.

"Mama dulu suka simpan uang juga kecil. Kalau ada yang kasih uang, masukkan ke celengan begini. Nanti bisa dipakai beli barang yang perlu. Beli buku, beli pena, crayon, kalau cukup mau beli sepeda juga bisa." lanjutku. 

Faraz memperhatikan aku yang sibuk bicara. Entah paham entah tidak. Ha Ha Ha. Bagiku ia (mencoba) paham.

Lalu kuangkat celengan ayamnya ke depan dia. Kuarahkan tangannya yang memegdang uang tadi.

"Masukkan ke lubang sini, Dek." Aku menunjuk tempat memasukkan uangnya.

Senyum di wajahnya merekah bergantian dengan ekspresi serius mencoba memasukan lipatan uang tadi.

"Yeayy!!! Dah masuk. Pintar Faraz sudah menabung yaaa." pujiku. 


#hari11
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Read more »
Kondangan: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day10

Kondangan: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day10



Masuk hari kesepuluh.
Faraz ikut aku pulang ke Karang Endah atas instruksi Papahnya. Beberapa minggu lalu kami diingatkan sebuah undangan melalui DM Instagram.

Walimahan Bundari.

Karena tidak memungkinkan untuk mengajukan izin atau cuti kerja lagi pada bulan ini, terpaksa papah tidak bisa ikut. Katanya: "Faraz dan Mama aja yaaa... Sampaikan salam buat Dek Dera."

Akupun mengiyakan dan pulanglah kami berdua naik bus Damri. Alhamdulillah Faraz tidak terlalu rewel dalam perjalanan. Bisa dibilang sepanjang jalan ia tertidur. Memang kupilih jam-jam tidurnya.

Baca:


Saat kondangan, biasanya ia tertidur. Jam 10 hingga jam 12 itu waktu kritis matanya mulai berat. Pengalaman sebelumnya, Faraz selalu tidur saat kondangan, tak peduli dengan suasana yang ramai. Makanya kami selalu bawa stroller-nya.

Tapi hari itu berbeda, Faraz belum mengantuk dan semangat lari ke sana kemari. Untung aku ditemani adikku. Jado, bisa bergantian momong Faraz walau tanpa papanya.

Mumpung kondangan hari ini ia belum ngantuk, akupun mengajarinya duduk manis saat acara berlangsung. Instruksi singkat dan jelas jadi jurus jitu yang kupilih kali ini.

"Adek belom ngantuk?" tanyaku.

Faraz geleng-geleng.

"Sini duduk di kursi aja ya." lalu kuangkat dan kududukan Faraz di kursi kosong.

Matanya sibuk melihat kanan dan kiri. Belum pernah duduk di kursi sendiri apalagi dalam suasana ramai begitu. Hehehe...

Mungkin ia heran.


#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Read more »
Faraz Berpose: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day9

Faraz Berpose: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day9



Aku mulai paham kenapa akhirnya Game ini disebut tantangan. Jelas menantang sekali ternyata ketika harus mengaplikasikan ilmu, mendokumentasikannya, lalu menarasikan ulang hasil prakteknya.

Yang membuat ini semakin menantang adalah pengerjaan yang runtut setiap hari. Whoooaah... Walaupun aku suka menulis dan bisa menulis dalam 30 menit dengan jumlah kata yang lumayan, tapi tantangan ini bukan kaleng-kaleng. Ha Ha Ha.


Hari ini Mama Faraz lumayan (sok) sibuk. Alhamdulillah tetangga sebelah baru menempati rumah beberapa minggu lalu. Malam ini rencananya akan ada doa bersama. Diajaklah mama rewang alias masak-masak untuk menu makan malamnya.

Syukurnya Faraz anteng dan ada teman-temannya juga yang bersedia main bareng sambil ngasuh. Walaupun sesekali perlu mama intip. Maklum masih anak-anak kan yaaa...

Saat sedang melihat aktivitas main mereka mama keidean mau mengabadikan kebersamaan itu. Kelak saat semuanya sudah tumbuh dewasa tentu senang punya foto kenangan bersama. Ups, sebenarnya ini pengalaman mama sih. Senang lihat foto-foto masa kecil.

Di atas itu adalah salah satu hasil fotonya. Setelah beberapa kali dijepret, mama lihat Faraz mengikuti arahan Kak Radit-nya dengan baik.


Memang belum pernah secara khusus Faraz kuajari berpose atau bergaya saat difoto. Biasanya aku foto dia saat sedang beraktivitas saja. Candid istilahnya. Atau seringkali saat ia kebetulan sedang menatapku.

Ternyata Faraz cepat paham ketika Kak Radit mengajarinya untuk menggunakan kedua jari telunjuk dan tersenyum.

"Waah, Faraz bisa pse diajarin Kak Radit ya. Hebat jadi bisa gaya pas foto ya Faraz." pujiku saat itu.

"Bilang makasih sama Kak Radit dah ajarin adek yaa..." aku menstimulasinya lagi.

Lalu kuucapkan terima kasih pada Kak Radit. Harapannya nanti saat Faraz sudah bisa bicara dia ingat aku mencontohkan untuk berterima kasih.


#hari9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional
Read more »
Pasang Kunci: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day8

Pasang Kunci: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day8

Sudah tiga hari ini Faraz jadi cengeng. Ketika Papahnya pamit kerja pada pagi hari, ia akan mulai menangis, merengek kuat ingin ikut. Tidak cuma Papahnya yang kewalahan dibuatnya, aku pun jadi bingung. Karena memang tak memungkinkan menuruti maunya itu, akhirnya Faraz dibiarkan menangis sebentar.

Tugasku adalah segera membujuknya agar ceoat berhenti menangis. Beberapa hal yang sudah kulakukan adalah mengajaknya memberi makan ikan,

Baca:

KASIH MAKAN IKAN YAAA: GAME LEVEL 1 KOMUNIKASI PRODUKTIF #DAY6



Juga mengajaknya menari alias joget-joget, dan minum susu. Semuanya berhasil membuat Faraz diam. Alhamdulillah.

***

Pagi ini terulang kembali. Saat Papahnya pamit hendak berangkat kerja, Faraz menggantungi lehernya minta diajak. Demi membujuknya, Papah pun mengajaknya naik ke atas motor. Tak hanya itu, ia diajak berkeliling sekali putaran demi tak menangis lagi. Padahal, hari sudah siang. Bisa-bisa telat nih.

Sayangnya, sekali putaran tak memuaskan Faraz. Ia meraung hebat ketika aku terpaksa mengangkatnya dari atas motor itu. Sudah waktunya Papah berangkat agar tak semakin terlambat. Papah pun pamit dan Faraz sibuk meronta dari dekapanku.

Punggung Papah Faraz sudah tak terlihat. Aku cepat-cepat membawa Faraz masuk. Kubujuk ia untuk berhenti menangis.

"Yok, Dek kita kasih makan ikan adek" ajakku.

Faraz mengangguk setuju. Perlahan tangisnya mereda dan ia tak lagi berontak ingin lepas dari gendonganku. Sisa air mata masih membekas di ujung matanya. Raut wajahnya serius melihatku mengambil ember berisi pelet makanan ikan.

Setelah memberi makan ikan, ia oun meminta untuk mandi berendam dalam ember di luar. Kenapa tidak? Aku pun memandikannya di sana.

***

Setelah mandi, aku siapkan pisang goreng cokelat untuknya. Faraz nampak antusias dan alhamdulillah lahap menyantap pisang itu.

"Faraz mau makan pake garpu atau langsung pake tangan?" aku menawarkan. 

Ia meraih garpu yang kupegang. Pagi ini Faraz sarapan pisang goreng pakai garpu. Hehhe...

Setelah makan, Faraz bergegas masuk ke kamar mainnya. Ia mulai sibuk bermain dengan balok-balok plastiknya. Suara lucunya kadang terdengar. Sudah 3 hari ini pula ia sering 'berbicara' sendiri dengan bahasanya. Menggemaskan.

Kemudian ia nampak bosan. Lalu merebahkan badannya di kasur dan mulai memperharikan sekitar. Matanya tertuju pada kunci yang tergantung di pintu kamarnya.


Faraz kemudian bangkit dan berjalan menuju pintu itu. Ia menunjuk - nunjuk ke arah kunci. Matanya menatapku, seolah memintaku mengambilkan kunci itu untuknya.

"Faraz mau minta tolong mama ambilkan kunci?" aku memastikan. 

Kepala mungilnya mengangguk mantap.

"Ini kuncinya," aku memberikan kunci itu padanya. 

Senyumnya merekah. Lalu ia berjalan kembali ke arah pintu tadi. Gelagatnya mengisyaratkan agar aku memasangkan kembali kunci itu.

"Kenapa?" tanyaku.

"blaplub nana blup x'" ?! #! #" bahasa khas yang hanya dimengertinya sendiri.

Aku pura-pura paham dan menebak-nebak setiap responnya.

"Oooo... Kuncinya mau dipasang lagi ya?"

Faraz mengangguk. Wah, tebakanku tepat.

"Coba Faraz pasang sendiri. Bisa kok. Pakai kursi Faraz tu." aku menunjuk kursi kecilnya. 

Seperti paham maksud instruksiku, ia pun mengambil kursinya. Dibawanya kursi kecil itu ke dekat pintu dna kemudian hap. Sampai!!! Tangannya berhasil mendekat ke lubang kunci.

Mulailah ia dengan kesibukan barunya: pasang kunci.


Yeayyy!!!
Setelah lama berkutat dengan kuncinya, ia pun berhasil. Langsung senang deh dia!

"Kereeen! Adek bisa pasang kunci. Wow!" pujiku




#hari8
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

@institut.ibu.profesional
Read more »
Makan Pakai Tangan Kanan: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day7

Makan Pakai Tangan Kanan: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day7


Hari ini entri ke-7 untuk tantangan 10 hari game level 1 (Komunikasi Produktif). Tidak terasa sudah seminggu menerapkan poin-poin komunikasi produktif kepada anak.

Masih ingat cerita pada hari pertama aku menjalankan tantangan ini?

Baca:

KOMUNIKASI PRODUKTIF GAME LEVEL 1 #DAY1


Apa daya karena lebih leluasa praktek untuk log keseharian bersama si kecil Faraz, jadinya tidak ikut menceritakan komunikasi produktif bersama pasangan nih. Insyaallah poin-poinnya tetap terus dicoba untuk diterapkan dalam keseharian.

Langsung ke cerita hari ini yaaa...

***

Pagi ini aku bangun lebih awal. Tumben efek kopinya bekerja. Semalam aku habiskan 2 gelas cappuccino sambil sibuk membuat laporan kerja.

Memang hanya ketika Faraz tidur malam hari lah aku lebih leluasa. Kalau saat tidur siang, seringnya aku menemani dan ikut tidur juga. Entah kenapa kalau aku memanfaatkan waktu tidur Faraz untuk mengerjakan tugasku, biasanya tidurnya cepat.

Berbeda dengan jika ada aku menemaninya tidur. Bisa 3 - 4 jam waktu tidurnya. Waktu yang cukup untuk sambil-sambil membereskan rumah. Aku mencuri kesempatan untuk masak dan mencuci biasanya. Kemudian lanjut rebahan bersamanya.

Berhubung efek kopi masih terasa dan membuat mataku segar, aku segera beberes dapur. Langsung siap menanak nasi, sambil mencuci piring. Dilanjutkan lagi dengan menyiapkan sarapan.

Menu pagi ini adalah bihun goreng dan pancake coklat. Segelas cappuccino hangat untuk Papahnya Faraz, dan sebuah dot susu Faraz. Siap menanti yang tidur bangun aja deh.

Aku mulai membereskan mainan faraz dan menyapu lantai. Sampai akhirnya suara rengekan kecil pertanda Faraz bangun kudengar.

Kupeluk badan mungil bayiku itu. Dan dia bertepuk tangan. Gemas sekali.

Tidak setiap hari ia bangun sambil merengek. Ada kalanya ia langsung bangun menyusulku ke dapur tanpa merengek.

Papanya mengajak Faraz membaca doa bangun tidur. Lalu menggendongnya keluar. Aku sudah berjalan keluar kamar lebih dulu tadi.

Faraz didudukan di atas karpet di depan tv. Aku masih melanjutkan mengelap meja dapur. Pukul 5:45 wib suamiku pamit berangkat kerja.

Faraz menangis ingin ikut. Tumben sekali. Selama ini dia langsung dadah-dadah kalau papanya pamit kerja. Kayanya karena seharian kemarin ia main berdua. Jadi masih kepingin main lagi eh ditinggal kerja. Hehehe...

Sabar ya, Dek.

Setelah papanya berangkat, Faraz masih menangis. Aku membujuknya dengan pancake coklat. Sukses!

Faraz teralihkan dari rasa sedih ditinggal kerja. Dia mulai sibuk dengan sepiring pancake dan dot susu di hadapannya.

Faraz mulai makan pancake-nya dan bola matanya menunjukan bahwa ia suka akan rasanya. Yeay!!!

Ia kuberikan garpu untuk makan pancake itu. Tapi, pada suapan kesekian kalinya ia pindahan garpu ke tangan kiri. Mungkin licin atau rasa tak nyaman lainnya.

Aku khawatir ia mulai makan dengan tangan kiri. Aku pun menyampaikan keinginanku dengan tegas dan singkat.

"Makannya pake tangan kanan aja, Dek."

Faraz cepat menangkap informasi. Dengan cekatan ia meraih potongan pancake-nya dengan tangan kanannya, tanpa garpu.

"aaaaaam..." suaranya.

Aku terkikik geli.
Tangan kirinya masih menggenggam garpu dengan pancake.


#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang


@institut.ibu.profesional
Read more »
Kasih Makan Ikan yaaa: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day6

Kasih Makan Ikan yaaa: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day6

Kedatangan ayah minggu kemarin memberikan rutinitas baru untukku dan Faraz. Setiap pagi sebelum mandi, ia akan menunjuk pintu belakang minta dibukakan. Kenapa? Tak lain dan tak bukan adalah untuk mengajakku ke kolam: memberi makan ikan.

Baca:

CARA GAMPANG MEMBUAT KOLAM LELE SEDERHANA



Untuk rutinitas baru ini, aku dan Faraz bergantian mengingatkan. Kadang ia yang duluan ingat dan menunjuk pintu seperti tadi. Kadang akulah yang mengingatkannya untuk memberi makan ikan kecilnya.

Faraz sudah pernah melihat baik aku ataupun papanya saat memberi makan ikan. Dia tahu betul ember mana yang berisi pur/pelet makanan ikannya.

Ketika alas kakinya sudah terpasang sempurna, Faraz bergegas menuruni undakan tangga di belakang rumah kami. Kemudian menunjuk-nunjuk ember bekas cat 5kg yang berisi makanan ikannya.

Aku pun membawakan ember itu untuknya.

"Lempar makanan ikannya ke dalam kolam, Dek!" begitu intruksiku.

Faraz pun antusias memasukkan tangannya hendak mengambil makanan ikan.

"Ayo kasih makan ikan!" sambungku.

Ia menoleh dan tersenyum padaku.
Kemudian lincah tangannya melemparkan makanan ikan ke kolam.

"Baaaa...." Faraz menyapa ikan-ikan yang tengah berebutan makan itu.

Hahahaa...
Ada-ada aja kamu, Nak. Barakallah.


#hari6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Read more »
Observasi: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day5

Observasi: Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day5


Puas tidur siang hari ini. Alhamdulillah ikutan segar karena aku juga tidur bersama Farazku.

Papa Faraz baru pulang kerja jam 8 pagi tadi. Kebetulan jadwal kerjanya minggu ini adalah malam. Jadi ada banyak waktu untuk membersamai Faraz saat siang harinya.

Ada undangan dari salah satu teman dekatku hari ini. Sebuah acara aqiqah untuk putranya yang baru saja lahir. Memang kami berniat untuk berkunjung ke rumahnya. Menjenguk bayi, begitu istilahnya di sini.

Pas aja ada undangan acara aqiqahnya. Sembari ikut mengaminkan doa dan harapan yang tersemat pada namanya, kamipun menghadiri undangan itu.

Sampai di rumah sudah siang. Tepatnya pukul 14:00 wib. Aku ngantuk berat, begitu pula Faraz. Ia sudah tertidur sejak di perjalanan pulang di motor tadi. Akhirnya, kami semua tidur dan terbangun pukul 4:30 sore.

Mata yang sudah segar juga tenaga yang sudah terisi kembali sehabis tidur siang itu membuat Faraz semangat mengajakku ke luar is rumah. Terdengar ada suara anak tetangga yang gembira main di luar. Yik, kita main bersama!

Aku memasangkan sepatu Faraz sebelum melangkah keluar. Faraz sudah siap. Sebuah truk kecil miliknya tak lupa dibawa dalam pelukan.

Kuperhatikan ia yang kemudian asyik mengikuti kegiatan anak tetangga tadi. Ia memasukkan tanah ke dalam bak truk. Ekspresi wajahnya lucu sekali. Bibirnya mengerucut menunjukan bahwa ia sedang konsentrasi memasukkan tanah yanh disendokinya itu.

Hahaha...
Like father like son.

Mainannya mobilan dan tanah nih, Faraz. Ga apa-apa sekalian latihan motorik ya, Dek.


#hari5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Read more »
Mandi Dulu, Yuk! Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day4

Mandi Dulu, Yuk! Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day4

Masih ada Cik Putri hari ini. Karena lagi asyik main, Faraz enggan diajak mandi. Waduh, gawat nih!

Sambil tetap berusaha tenang walaupun sudah ditolak si kecil, akupun memberi pilihan padanya:

"Faraz mau mandi pake baskom di kamar mandi atau pake ember di luar?"

Nampaknya pertanyaan tadi sukses membuatnya berpaling ke arahku. Akupun mengulangi pertanyaan tadi.

Kali ini Faraz merespon dengan cepat-cepat beranjak dan berlari ke arah pintu belakang.

Okay, Faraz memutuskan untuk mandi di luar! Aku menginstruksikan dengan singkat agar ia mengambil handuknya terlebih dahulu.

"Tolong ambilkan handuknya yaa..." kataku. 

Faraz langsung menuju rak jemuran handuk dan menarik handuk kecil miliknya. Mari kita mandi!!!



#hari4
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Read more »
 Begini atau Begitu? Gamel Level 1 Komunikasi Produktif #Day3

Begini atau Begitu? Gamel Level 1 Komunikasi Produktif #Day3


Yang jadi gambar untuk postingan ini adalah kutipan dari Canva. Aku merasa ini tuh pas banget dengan apa yang sedang aku perjuangkan: berjuang jadi lebih baik.

Karena sadar kemampuan fokusku yang tidak terlalu baik, aku targetkan minimal satu hal saja yang bisa meningkat levelnya jadi baik hari ke hari.

Sampai hari ini fokus utamaku adalah membersamai Faraz. Sembari berusaha juga melakoni peranku sebagai pelajar di IIP ini. Sebenarnya aku agak 'keteteran' dengan tugasnya. Tapi semangat untuk belajar selalu mengakar. Doakan aku bisa lulus dan berhasil menerapkan ilmu-ilmunya yaaa...

Baru hari ketiga untuk entri tantangan 10 hari di level 1 ini. Sebenarnya kondisiku ini mungkin lebih leluasa dibandingkan teman pembelajar lainnya. Baru punya 1 anak ditambah kesempatan membersamai yang cukup banyak. Tantangan ini harusnya bisa dilakukan dengan baik.

Teman-teman sekelas pun sangat memotivasi. Bisa sukses submit tugas pada waktunya bahkan ada pula yang mengaplikasikan ilmu ini kepada seluruh anggota keluarga di rumah.

Hari ini saat membersamai Faraz, kembali kupraktekan poin dari komunikasi produktif.

***

Ceritanya, pagi ini Faraz mau minum susu kemasan. Dengan semangat dia buka kulkas dan mmeilih sendiri susunya. Awalnya dia duduk di kursi untuk minum susu itu seperti biasanya.

Entah kenapa atau entah ada ide apa yang terbersit di kepalanya, ia beranjak menuju kamar main. Tentu saja sambil membawa susu tadi.

Aku tak curiga.

Pagi itu aku memang sambil cuci piring dan membersihkan dapur. Faraz minum susu dan kupikir akan berjalan lancar seperti hari-hari sebelumnya.

Ketika kulihat ia tak ada lagi di kursi serta hening tak ada kericuhan sedikit pun, aku pun melongok ke dalam kamarnya.

Kaget.

Dia tengah menumpahkan susunya dan asyik memainkan tangan di genangan coklat itu.

Aduh!

Kalau mengikuti refleksnya diri, aku sudah mai teriak: Faraaaaaaz!!! Karena panik dan juga kesal kamar jadi kotor mungkin.

Aku ingat diskusi materi kemarin. Saran Uni Lisa, ada baiknya tarik nafas dulu. Konon katanya begitu sukses membuat otak berpikir jernih  Jadi ga akan mengikuti kalut hati yang mau marah.

Oke.
Inhaleeeee....
Exhaleeee....

Aku dekati Faraz. Dia mematung  Mungkin mengira-ngira apa aku akan marah atau apa. Jurus komunikasi produktif pun aku lancarkan.

"Duh, kasihan adek. Susunya tumpah ya?" tanyaku.

Dia menangguk dengan tmapang lucu. Menurutku dia masih mencoba menebak reaksiku berikutnya.

"Ga apa-apa ya tumpah. Minum aja yang ada ini lagi. Kalo habis berarti selesai." sambungku.

Dia geleng-geleng pertanda sudah tak ingin minum susu itu. Sebenarnya masih ada sisa sedikit di dalam kotaknya. Tapi memang nampaknya dia hanya ingin bermain dengan susunya. Alias dia memang sengaja tumpahkan itu.

" Ayok, kita lap dulu basah ini. Mana lapnya? Bisa tolong ambilkan lapnya, Dek?" aku mengajaknya.

Faraz cepat menuju dapur dan membawakan lap yang kupinta. Kemudian dia langsung sibuk meletakan lap itu tepat di atas genangan susu yang ia tumpahkan. Lagaknya sedang membersihkan. Hahha lucunyaaa...

"Pinternya, Faraz dah bantu mama bersihkan susu tumpah. Makasih ya, Dek. Allah sayang anak yang bertanggung jawab." sekalian saja aku puji dia. Tak sisa-sia. Senyum manisnya merekah sempurna.

Siapa yang mau marah sama anak lucu ini??? Akupun langsung memeluk dna menciumi pipinya.

Masyaallah Tabarakallah.


Setelah kuulangi mengelap genangan susu tadi, kami berdua main dengan mobil-mobilannya. Aku bertanya dengan lembut pada bayi setahunku itu.

"Kok adek tumpahkan susunya? Dah kenyang ya?" tanyaku.

Dia jawab dengan babbling yang hanya dimengertinya. Cuma sebuah gelengan yanh membuatku menebak bahwa dia tidak setuju kubilang kenyang.

Akhirnya kuberikan sebuah pilihan.
Apakah ia mau menghabiskan susunya dan minum di kursi atau sisa susu tadi dibuang saja.

Faraz merespon dengan mengambil kursinya lalu duduk di atasnya. Artonya ia memilih untuk menghabiskan susunya tadi.

Sekarang dia tenang minum susu sambil duduk di kursinya. Mama pun tenang ga jadi marah-marah.

Oh, senangnyaaa dapat ilmu ini  Semoga sukses jadi kebiasaan hidup. Aaamiiin.

Kita bertumbuh dan belajar bersama ya, Nak. Terima kasih sudah membersamai mama.


#hari3
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Read more »
Aku Bisa! Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day2

Aku Bisa! Game Level 1 Komunikasi Produktif #Day2


Aku ingat kisah tentang saudaraku. Mereka yang laki-laki selalu disandingkan dengan kami, anak-anak ayah yang semuanya perempuan.

Entahlah.
Waktu itu kami masih kecil sehingga tidak terlalu paham maksud dan tujuannya. Hingga kami beranjak dewasa dan hingga aku merasakan sensasi jadi seorang ibu ini barulah kutahu apa yang terjadi.

Kesimpulanku adalah PEMBENARAN.

Mereka yang menyanding-nyandingkan dengan bumbu merendah itu hanya mencari pembenaran atas sebuah kesalahan (yang tadinya kecil) mereka sendiri. Sampai tak disadari kesalahan tersebut menggunung dan membentuk sebuah pribadi.

Miris sekaligus ngeri bagiku ketika menyadarinya. Aku tak mau hal serupa terjadi padaku, anak-anakku, dan keluargaku.

Penyandingan yang bagaimana?
Misal:
Dia ini laki-laki, wajar saja begini. Tentu berbeda dengan kalian perempuan. 

Kalo nakal artinya betul laki-laki. Yang penurut itu anak perempuan. 

Masakkan ini untuk adik laki-lakimu itu. Kan yang di dapur itu perempuan.


Jika sekali-dua kali disebutkan demi menenangkan gejolak hati pribadi mungkin tak masalah. Namun, ketika disebutkan terus-menerus. Ditambah lagi dengan dalih lainnya, dan diutarakan di depan si anak pula, ternyata menyumbang sifat pada pribadinya.

Belajar dari pengalaman itu, aku pun berhati-hati dan mulai belajar sedikit demi sedikit. Beruntung bertemu Institut Ibu Profesional ini.


Ini adalah entri hari kedua ntuk Game Level 1 Tantangan 10 hari. Temanya Komunikasi Produktif.

Saat bermain bersama Faraz, aku mencoba menerapkan poin-poin komunikasi produktif (komprod) pada anak. Ada 11 poin untuk mencapai komunikasi produktif pada anak. Hari kedua ini ada 2 poin yang kami terapkan bersama.


Baca sebelumnya: Komunikasi Produktif #Day1

Hari itu Faraz bangun tidur. Kami tak langsung mandi karena Faraz langsung semangat saat melihat kartu-kartu remi bertaburan di karpet.



Kebetulan gambar di belakang kartu itu adalah dua buah ikan koi yang lucu. Sontak Faraz semakin menggebu hendak meraihnya.

Setelah puas menyusun dan melipat-lipat kartu itu, Faraz melihat kotak tempat kartunya. Mungkin pernah liat aku atau Papahnya memasukkan kartu tersebut ke kotak dusnya.

Mulailah Faraz mencoba untuk mengembalikan kartu-kartu itu ke dalam kotak.

Kartu pertama masuk. Lanjut kartu kedua agak susah dan dia mulai nampak tak sabar. Akhirnya kartu kedua pun masuk dengan jejalan tangan setengah kesalnya.

Faraz makin tak sabar ketika kartu ketiga tak bisa dimasukkannya. Dia mulai menangis kesal. Pelan-pelan aku bujuk dia.

"Bisa kok, Nak. Coba lagi."

Raut mukanya nampak serius berusaha kembali. Yippi!!! Faraz berhasil. Dia nampak puas dan tertawa senang setelahnya.

Tanpa buat kesempatan aku selipkan poin komunikasi produktif untuk membuatnya percaya diri: memuji dengan detail.

" Waah, Faraz hebat bisa masukin kartu ke kotaknya." 


Saat sore hari Faraz enggan diajak mandi. Sudah keasyikan mandi dia. Padahal kalau sudah mulai mandi biasanya ga mau berhenti. Hahhahaa...

Akhirnya, aku coba jurus lainnya: Memberi pilihan alih-alih memerintahnya.

" Faraz mau nge-dot dulu apa mandi dulu?"

Aku tanyakan padanya sambil menatap langsung ke manik matanya.

Faraz merespon dengan memberi kode 5 jari. Artinya ia minta dot dulu. Cik Putrinya pernah mengajarkan dia bahwa takaran susunya adalah 5 sendok sambil memeragakan gerakan angka 5. Faraz sukses menirunya. Tiap kali kubilang akan buat dot, tangan lucunya langsung memberi kode 5. Hihihi...

Sore yang tenang ditutup dengan Faraz yang asyik menghabiskan susu dalam dotnya. Kemudian kami pun mandi sore.



#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Read more »
Komunikasi Produktif Game Level 1 #Day1

Komunikasi Produktif Game Level 1 #Day1



Whoaaah tak terasa sudah dimulai kelas Bunda Sayang (Bunsay) Batch 5 Kelas Sumatera 1 ini. Sebenarnya memang sudah dimulai sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi, baru semacam pemanasan saja. Dimulai dengan perkenalan, lalu penunjukan pengurus kelas, pembagian kalender akademik untuk semester pertama, juga beberapa latihan Pra-Bunsay.


Eh? Tadi kamu bilang 'Penunjukan Perangkat Kelas' , Al? Ga salah tuh? Kan biasanya pemilihan.

Nah, inilah istimewanya kuliah di IIP (Institut Ibu Profesional). Kita semua dilatih untuk berani dan bertanggung jawab. Kalau ada 'lowongan' tugas, para mahasiswi IIP tuh berbondong-bondong menunjuk dirinya sendiri.

Bukan karena songong loh yaaaa...
Lebih karena ingin memanfaatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak. Jadi, yang menunjuk dirinya sendiri ga mesti udah ahli atau apa. Justeru, nanti akan ada kelas trainingnya. Semua dari nol. Kita dilatih dan dibimbing agar bisa menjalankan peran yang sudah dipilih sendiri tadi.

Konsep ini aja udah bikin aku cinta sama IIP sejak gabung kelas matrikulasi-nya tahun lalu. Ditambah lagi materi-materi dan kegiatannya yang daging semua.

Alhamdulillah aku beruntung bisa berkumpul dalam lingkungan ini.

Nah, hari ini aku akan berbagi tentang materi pertama kelas Bunsay kami. Yaitu tentang Komunikasi Produktif.

Penjabaran materinya bisa liat di sini nanti yaa...

Sekarang adalah hari pertama tantangan 10 hari. Jadi, menurut kalender akademik, akan ada 10 hari pertama, 10 hari kedua, ketiga, dan seterusnya yang kemudian disebut level.

Postingan kali ini adalah entri untuk Game Tantangan 10 Hari Level 1 (Day 1).

Tugasnya adalah sebagai berikut:



Singkatnya adalah kami akan mempraktekan materi tentang komunikasi produktif. Ada beberapa poin yang sudah dijadikan acuan untuk itu.

Berkomunikasi produktif dibagi menjadi dua. Yaitu komunikasi dengan anak-anak dan komunikasi dengan orang dewasa.

Untuk tantangan di kelas ini, aku akan mempraktekannya pada anakku (Faraz, 15 bulan) dan suamiku (29 tahun).

Kalau boleh sedikit curhat, game ini tuh betul-betul sebuah tantangan bagiku pribadi. Betapa pola berkomunikasi kita sebagai orang dewasa ini sudah terbentuk dan menjadi perangai kan? Ibarat kata: udah dari sononya gini.

Padahal, hal tersebut ada sumbangan hasil dari tempaan hidup. Bisa saja dari faktor lingkungan, latar belakang komunikasi dalam keluarga, lingkaran pertemanan, hasil pendidikan, pengalaman hidup, bahkan bisa juga berasal dari daerah.

Pernah dengar orang bilang kalo Bahasa Palembang itu keras? Orangnya kasar?

Hello...
Itu karena kamu tak terbiasa di lingkungannya. Bagi kita ya itulah nada dan intonasi daerah, bukan sedang marah. Kira-kira begitulah ilustrasinya.

Nanti kita bahas soal ini lebih jauh pada postingan terpisah yaaaa...

Kembali ke tantangan hari ini. Berikut poin- poin penting untuk berkomunikasi positif dari materi kelas Bunsay IIP:


Hari ini, 28 Maret 2019 aku coba praktekan komunikasi produktif kepada anakku. Niatnya ingin praktek kepada kedua cintaku, Faraz dan Papahnya. Sayangnya belum bisa langsung praktek ke Paksu. Mungkin kita coba besok yaaaa...


Mengendalikan Emosi

Bagian ini nampaknya aku gagal. Karena aku masih suka teriak ke Faraz. Seperti tadi ketika dia gigit tanganku. Langsung teriak karena sakit. Tapi kasih ekspresi marah juga sampe dia takut kayanya (liat ekspresinya). Pas sadar, aku buru-buru pasang senyum. Baru deh dia ketawa trus mau gigit lagi. Jurus emak keluar akhirnya: Manggil papahnya. Hahahaa. .
Mission failed! X


Keep Information Short and Simple (KISS)

Bagian ini sebenarnya memang sudah kupraktekan dari awal. Jadi tidak terlalu susah. Respon Faraz juga bagus. Mungkin karena sudah tahu.

Tadi pagi, belum mandi masih pake piyama. Faraz keukeuh mau minta bukain pena. Kebetulan ada buku yang masih tergeletak di ruang keluarga. Dia pernah lihat bagaimana aku pakai buku dan pena. Akhirnya, aku bukakan penanya. Aku gambarkan sebuah ikan (jangan berharap gambar ikannya bagus ya...).

Faraz kasih makan ikan


"Tadaaa... Ini ada ikan buat teman Faraz. Coba kasih makan, Dek."

Kemudian dia arahkan pena ke ikannya  Hehhee. Mamam yang banyak ya, Ikan.


Intonasi Suara dan Nada yang Ramah

Selama berinteraksi menemani Faraz main, aku menerapkan kaidah Intonasi Suara dan Nada yang Ramah. Responnya memang bagus. Apa yang kusampaikan bisa dipahami dengan baik. Misalnya ketika ngemil siang, aku berikan semangka untuknya.

Pada momen ngemil itu pula aku cobakan KISS.


Keep Information Short and Simple 


Makan semangka dulu yaaa


Biasanya aku potongkan semangka dengan ukuran kotak kecil atau bulat dengan alat kerok es buah. Hari ini aku coba dengan potongan besar.

"Dek, pegangnya gini ya..." kataku sambil membimbing kedua tangannya.

Takjub juga ketika dia langsung mengikuti dan paham maksudku. Kemudian semangka tandas dilahapnya. Alhamdulillah.


***


Ternyata menyampaikan apa yang ada dalam benak kita tuh susah-susah gampang juga nih. Untungnya langsung praktek komprod (Komunikasi Produktif) ke anak bayi. Notabenenya kan doi masih suci, masih polos bak sebuah kertas. Jadi, kasoh input positif agar masuk ke sanubari.

Semoga nanti bisa jadi perangai baik yang melekat pada pribadinya. Juga padaku. Aaamiiin.

Ga sabar mau praktek hari berikutnya. Penasaran sama respon-respon lainnya. Apalagi kalo praktek ke orang dewasa yaa...

Wuih, gimana responnya? Aku sih ngebayangin awalnya pasti canggung. Karena perangaiku kan sudah terbaca sebagaimana dia melihatku selama ini.

(((dia)))

Mau praktekin komprod gini antara antusias, ragu, dan juga malu. Aiih, gimana mulainya besok ya?

Doakan aku, Teman-teman.



#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Read more »
NHW 5: Belajar Cara Belajar

NHW 5: Belajar Cara Belajar


NHW 5: Belajar cara belajar - Learning how to learn. Epik sekali ya judul materi kelima di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (MIIP) ini.

Gimana pula itu belajar cara belajar?
Hahahaa...

Itulah yang pertama kali berputar di kepalaku. Disambung dengan kicauan lain dalam kepala:

Memangnya yang sekarang ni bukan belajar?
Apa salah cara belajar sekarang ni?
Sudah bertahun-tahun ternyata salah cara belajar ni? Alamaaaaaak...

Lucu sekali memang ketika dipikirkan. Akhirnya setelah diskusi materi tentang ini, mulai mengerti arti judul bahasan ini.

Selanjutnya ikut terbuka pula mata hati dan pikiran.

Oooh... Begituuuuu....

Panjang muncungnya sambil manggut-manggut.

Setelah tahu bagaimana belajar cara belajar, tugas untuk NHW kali ini adalah membuat desain pembelajaran. Hohohoho...

Baiklah!

Untuk murid pertamaku yang kucinta dan kusayang dengan segenap jiwa raga, Faraz. Semoga Mama bisa mengajakmu belajar cara belajar ya. Sementara Mama pun masih belajar.

Sesuai dengan 3 hal yang harus dipelajari oleh pengajar dan muridnya, yaitu:


  1. Belajar hal yang beda
  2. Cara belajar yang beda
  3. Semangat belajar yang beda
Maka saya mulai desain ini. Strategi pembelajaran yang diusung adalah strategi meninggikan gunung, bukan meratakan lembah.

Artinya, fokus pada keunggulan, bukan pada kelemahan.

Untuk saat ini, peran saya selaku pengajar adalah sebagai Pemandu. Usia murid saya masih di dalam kategori 0 - 8 tahun. Tepatnya baru 8 bulan. Hehehe...

Sebenarnya tak banyak yang bisa saya lakukan selain mengamati dan menstimulasinya.

Jadi, kegiatan belajar kami akan fokus di sana.

Kira- kira kira begini rancangan belajar yang berhasil kurumuskan: 

Read more »
NHW 4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

NHW 4: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Mendidik dengan kekuatan fitrah nhw 4 institut ibu profesional

Assalamualaikum.
Tak terasa sudah di minggu ke empat. Materi pelajaranku di kelas Matrikulasi IIP ini semakin 'berat'. Berat karena masib asing sekali dengan beberapa istilah.

Misalnya saja ketika disebutkan seperti pada judul: Mendidik dengan Kekuatan Fitrah.

Dalam hati saat membaca materinya langsung ribut sahut-menyahut.

"Hah? Gimana pula itu mendidik berbasis fitrah?"

"Fitrah yang bagaimana?" Atau malah makin kacaunya lagi, hati bertanya-tanya "Fitrah itu apa ya sebenarnya?"

Karena saat menyelami kembali materi yang diberikan itu, semakin tenggelam dalam kebingungan.

Untung saja, Mbak Mimi selaku fasilitator di kelas kami datang membawa pencerahan. Banyak pertanyaan dari para teman yang sudah mewakili apa yang hendak kutanyakan.

Akhirnya aku tinggal menyimak jawaban dalam diskusi NHW 4 itu.

Tugas yang diemban untuk NHW 4 itu adalah:




Itu tugasnya. Ada sampai F point artinya 6 buah instruksi yang harus dilakukan.

Kalau bisa kubilang, nampaknya di NHW 4 ini kami dibimbing untuk tetap berada di jalur yang benar. Caranya adalah dengan meriviu NHW sebelumnya dan mulai membuat titik poin untuk beranjak kembali. Bismillahirrahmanirrahim.

Akan kumulai dengan instruksi yang pertama.


Jurusan di Universitas Kehidupan


Jurusan yang kupilih adalah JURUSAN WANITA SHOLEHA. Sudah kuceritakan asal muasal, alasan, serta beberapa strategi yang kurencanakan selama menempuh pendidikan di jurusan itu di postingan NHW 1.

Apakah aku akan tetap memilih jurusan ini? 

Karena pembelajaran selama di kelas MIIP ini kuikuti dengan penuh rasa ingin tahu, penasaran, dan semangat. Walaupun bingung aku coba untuk menjalaninya. Tadinya aku takut salah mengerjakan tiap NHW yang diberikan. Tapi, seiiring waktu perjalanannya terlihat kemana arah pembelajaran ini.

Aku makin ringan melangkah.
Betul katanya: JUST DO IT! Sambil percaya Insyaallah bisa dan memeroleh ilmu yang baik.

Kukira jurusanku terlalu umum atau cakupannya terlalu luas dan melebar kemana-mana. Tapi, setelah kubaca e-bulletin vol. 01 bahwa semuanya boleh. Tak salah asal sudah diatur perencanaan penguasaannya.

Jadi, aku tetap pada jurusan pilihanku ini, Jurusan Wanita Sholeha. Bismillah.


Konsistensi Checklist NHW 2


Pada saat mengerjakan NHW 2, aku mulai teringat materi kuliah dulu. Yaitu tentang pembuatan indikator pembelajaran. 

Di kelas MIIP ini, kami juga diajak untuk menuliskan indikator hidup. Indikator yang dibuat adalah untuk skala pribadi (individu), istri, dan ibu. Sementara, indikator tersebut harus memenuhi unsur SMART. Sudah kujabarkan di postingan NHW 2.

Entah kenapa, ketika hendak membuat indikator capaian sebagai wanita profesional baik sebagai pribadi, istri, dan ibu rasanya aku mentok sekali mikirnya.

Sempat kutuliskan beberapa poin saja. Berkecamuk rasa antara takut tak mampu mencapainya juga bimbang menuliskannya.

Ketika diskusi riviu NHW itu, ada penerangan lagi yang kudapat. Yaitu lebih baik menulis dengan sebanyak-banyaknya dan sedetail-detailnya. 

Pun ketika kulihat NHW yang dibuat teman lainnya di e-bulletin 2. Aku manggut-manggut takzim saat membacanya. Salut dengan perencanaan hidup teman-teman yang sudah sangat terarah secara detail.

Jadi, akupun merevisi indikator yang kubuat sembari membuat format checklistnya sebagaimana yang dicontohkan teman-teman.

Waaah...
Ternyata banyak juga yaa...


Sudah konsistenkah aku mengerjakannya? Segenap hati kucoba untuk lakukan sesuai rencana yang sudah kutuliskan itu. 

Beberapa memang masih ngos-ngosan mengerjakannya. Lantaran masih belum piawai mengatur ritme dan waktunya.

Ini salah satu PR besarku: Manajemen Waktu!

Bismillahirrahmanirrahim.
Mulai hari ini harus lebih keras pada diri sendiri. Seperti pesan Bunda Peni: agar kelak, lingkungan pun melunak pada kita.


Peran Hidup


Peran hidup. Ini adalah inti dari pengerjaan NHW 3 lalu. Betapa minggu itu menjadi minggu yang cukup menguras emosi jiwa.

Karena untuk memahami peran hidup itu, ada sebuah tugas 'besar' yang harus kami kerjakan. Yaitu IKHLAS.

Tentang memaafkan masa lalu dan membangun serta memupuk cinta (mulai dari rumah).

Aku juga menuliskan surat cinta untuk suami seperti yang diinstruksikan. Rasanya nano-nano! Sudah kuceritakan di postingan NHW 3.

Lalu, belajar membaca 'kode' dariNYA. Tentang mengapa saya ada di dunia ini, di lingkungan ini, dan di keluarga ini. Untuk kemudian menentukan bidang apa yang ingin didalami dalm dalam hidup ini.

Duh, sesungguhnya kode itu tersirat dimana-mana. Tentang potensi diri yang kucoba baca, juga tentang apa yang bisa kulakukan untuk sekitar sudah kutulis dan kurencanakan ketika itu.

Aku adalah ibu satu anak yang berlatar belakang pendidikan. Karena satu dan lain hal, aku memutuskan untuk membersamai anakku bermain di rumah saat ini.

Hobiku menulis dan aku tetap melakukannya saat di rumah bersama anakku. Dari sekian banyak potensi yang kubaca seperti yang kusampaikan di NHW 3 lalu, akupun memutuskan satu potensi saja yang akan kuperdalam.

Yaitu Menulis. Aku memilih MENULIS sebagai bidang yang akan kuperdalam- kupelajari lebih jauh.

Dari tulisanku, aku berharap tetap bisa memberikan pembelajaran juga (berbasis online).


  • Misi hidup: Berbagi melalui tulisan
  • Bidang: Pembelajaran Bahasa Inggris, Sharing kehidupan sehari-hari (lifestyle), beauty
  • Peran: Penulis


Menyusun Ilmu


Setelah aku mulai mengerucut dengan pilihan bidang yang akan kutekuni, saatnya membuat kurikulum.

Yaitu menyusun ilmu apa saja yang aku perlukan untuk bisa menjadi ahli di bidang ini. Agar aku bisa maksimal mencapai misi yang telah kubuat tadi.

Berikut susunan ilmu dalam kurikulum yang kucoba buat:


  1. Pra Menulis: memperbanyak sumber bacaan agar wawasan menulis berkembang
  2. Pondasi Menulis: ilmu tentang kepenulisan (tata bahasa, dll)
  3. Pernik Menulis: ilmu tentang membuat tulisan enak dibaca, dilihat secara visual, dan mampu menyampaikan pesannya.
  4. Pro Menulis: ilmu tentang menjadikan tulisan bermanfaat dan mampu membawa kebaikan (income, dll)


Milestone


Ini adalah hal yang tak kalah penting. Setelah membuat indikator kehidupan dan berusah konsisten melaksanakannya, harus ada garis waktu agar tidak terlena.

Di sinilah milestone bekerja.

Dari materi sesi ke-4 di kelas MIIP ini kami belajar bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar.

Semua orang memiliki Km. 0 dalam hidupnya saat memulai sesuatu. Dan di sinilah Km.0 ku bermula. Saat aku genap berusia 27 tahun. 

Bismillahirrahmanirrahim.
Semoga bisa terus maju ke Km (kilometer) selanjutnya.

Km 0 hingga Km 1 dianalogikan sebagai tahun pertama. Km 1 hingga Km 2 adalah tahun kedua, dan begitu seterusnya.

Bagaimana milestone-ku untuk setiap kilometernya?

Km 0 - Km 1: Menguasai ilmu Pra Menulis
Km 1 - Km 2: Menguasai Pondasi Menulis
Km 3 - Km 4: Menguasai Pernik Menulis
Km 4 - Km 5: Menguasi ilmu Pro Menulis



Koreksi Checklist


Seperti yang kusampaikan di sub judul kedua tadi, konsistensi checklist NHW 2, bahwa aku akan merivisi checklist agar indikator capaian menjadi wanita profesionalku mudah dikerjakan.

Sekaligus agar aku bisa menguatkan diri berusaha lebih keras untuk mengerjakan tiap daftarnya.

Berikut revisi yang kubuat:




Bismillah.
Semoga semua indikator ini bisa tercapai dengan baik dan diberikan kemudahan dalam mengerjakannya.



Read more »
NHW #2: Indikator Ibu Profesional

NHW #2: Indikator Ibu Profesional



Assalamualaikum.
Kali ini saya mau berbagi tentang Nice Home Work (NHW) pekan kedua.

Setiap hari bahasan diskusi di WAG Matrikulasi Ibu Profesional semakin seru. Selain sesi STOD dan tamu spesial dari jajaran Ibu Profesional Pusat tentunya.

Baca:

STAR OF THE DAY PERDANA DI KELAS SUMATERA 3 MIIP BATCH 6



Pekan kedua ini bahasannya adalah tentang menjadi Ibu Profesional. Ada banyak sekali bahasannya. Dari materi itu, kami dikenalkan pula dengan daftar acuan atau indikator perempuan profesional.

Seperti semboyan di IIP ini: Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Hal itu menjadi salah satu indikator untuk dibilang profesional. Apakah keluarga bangga dengan kita?

Well, I'm in the process of learning

Semoga setiap usaha saya itu dinilai sebagai sesuatu yang positif dan menjadi kebanggaan suami, anak, orang tua, dan saudara. Aaamiin.

Ada 3 indikator profesionalisme perempuan seperti yang disampaikan oleh Tim Matrikulasi IIP di kelas. Berikut ranah tolok ukurnya:

  1. Sebagai Individu
  2. Sebagai Istri
  3. Sebagai Ibu

Tugas NHW #2 ini adalah membuat indikator profesionalime diri sendiri. Yang kira-kira mampu dijalankan dan mampu membawa kita maju ke arah tujuan menjadi profesional itu.

Berdasarkan kaidah indikator yang baik, yaitu memenuhi kriteria SMART (specific, measurable, achievable, realistic, and timebond), maka berikut indikator saya:


SEBAGAI INDIVIDU, saya bisa:
  • beribadah tepat waktu. Minimal untuk hang wajibnya.
  • khatam Al-Qur'an dengan teratur membacanya minimal 1 lembar per hari.
  • membuat konten untuk blog. Minimal 1 postingan per minggu.
  • membaca buku minimal 1 buku per bulan.
  • membaca artikel pendidikan minimal 1 artikel per minggu.
  • meluangkan waktu untuk merawat tubuh (scrubbing, maskeran, luluran, creambath). Minimal dikerjakan sendiri di rumah sebulan sekali.

Secara garis besar, indikator profesional saya sebagai individu adalah bisa mengakomodasi waktu untuk melakukan hal yang saya sukai, saya geluti, dan saya butuhkan dengan baik.



SEBAGAI ISTRI, saya bisa:
  • membuatkan sarapan suami setiap hari.
  • memasak makanan kesukaan suami minimal sebulan sekali (by request). Karena biasanya saya masak dengan daftar menu yang sudah saya buat sendiri.

Indikator umumnya adalah saya mampu menggandeng suami saya sebagai seorang pasangan, partner kerja, teman, dan adiknya setiap saat.



SEBAGAI IBU, saya bisa:
  • bermain sambil belajar setiap waktu dengan anak saya.
  • membuat makanan kesukaannya (by request) minimal seminggu sekali.
  • membacakan 1 buah cerita pengantar tidurnya setiap malam.

Secara umum, indikator keprofesionalan saya sebagai ibu adalah saat saya bisa menghabiskan banyak waktu dengan anak sembari melakukan hal yang menyenangkan bersama setiap saat.


Kira-kita begitulah indikator yang saya buat untuk menjadi perempuan profesional. Jika nanti saya terlalu melenceng dalam perjalanannya, catatan ini yang akan jadi pengingatnya.


Kalau dilihat, nampaknya masih timpang antara cerminan capaian menjadi profesional di tiga ranah itu.

Saya cenderung banyak menuliskan indikator sebagai individu. Mungkin karena saya sudah melihat dan merencanakan hal apa saja yang akan saya kerjakan, akan saya kembangkan, dan lainnya. 

Sementara untuk ranah sebagai istri dan sebagai ibu, nampaknya saya masih bingung. Apa lagi ya???

Sebagai istri ya beginilah saya di rumah.
Memasak menyiapkan makanan, membersihkan rumah, dan semua urusan domestiknya. Karena begitulah yang saya tahu. Karena saya happy mengerjakannya. Hobi saya ya masak. Kalo saya suka bilang ke suami, "Dapur itu kerajaan saya."

Hahaha...

Lha wong salah naro sendok aja mamak rewel haha...

Apakah teman-teman punya perspektif lain tentang menjadi istri? 

Dan sebagai ibu, saya juga mungkin masih bingung. Sejauh ini saya selalu berusaha menjadi teman terbaik untuk bayi 7 bulan saya ini. Bermain dengannya sambil sesekali menyelipkan pembelajaran, menyuapinya, membaca bersama. Itulah yang saya lakukan.

Sependek pengetahuan dan pemahaman saya, saya sudah melakukan seperti apa yang seorang istri dan ibu lakukan. Maka dari itu, saya terus melakukannya dan mencoba menjadi lebih baik dalam hal itu.

Apakah betul begitu caranya berperan sebagai istri dan sebagai ibu? Apakah teman-teman punya pengalaman lain?

Maka dari itu, beberapa hal yang saya lakukan sebagai individu itulah yang menjadi semacam 'me time' bagi saya. Sebuah kesempatan saya untuk mengenal diri saya lebih jauh dan obat dikala saya merasa jenuh dengan rutinitas yang terkesan menoton.

Bukan.
Bukan saya ga happy tentang peranan lainnya. Jelas saya happy dengan bayi imut saya. Saya juga happy dengan suami saya yang baik dan santun. Hanya saja memang manusiawi terkadang kita perlu keluar sedikit dari zona nyaman itu.

So, peranan saya sebagai individu, sebagai istri, dan sebagai ibu ini melengkapi satu sama lain. Alhamdulillah.

Terlepas kadang mamak butuh hiburan yaaa... 

Kadang sebatas keluar rumah, duduk di taman. Atau sekedar ke swalayan cuci mata rasanya cukup menepis penat. Hahaha...

Receh sekali memang saya ini. Tak apa toh?
Tinggal butuh konsistensi dan kebersamaan agar tidak jomplang. Agar tidak merasa berjuang sendiri. Karena sejatinya keluarga adalah SALING.


Puisi yang kutulis. Judulnya: Salinglah!


Indikator yang saya buat ini bisa saja bertambah dari waktu ke waktu. Nanti akan saya update setiap saya merasa ada hal lain yang harus saya capai untuk menjadi profesional.

Saat ini, segitu aja ya...


Bismillahirrahmanirrahim.
Semoga bisa konsisten. Aaamiin.

Ketika lelah merasa sendiri, kalimat Pak Dodik yang dikutip saat pembelajaran di kelas MIIP Batch 6 ini juga jadi motivasiku.

"_Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik_"

Read more »

BloggerHub Indonesia